Alpara Kaplet

Alpara Kaplet: Manfaat, Dosis, Cara Pakai, Interaksi, Efek Samping

Golongan: Obat bebas terbatas (logo biru). Gunakan sesuai aturan pakai pada kemasan atau anjuran dokter/apoteker. Informasi ini untuk edukasi dan tidak menggantikan konsultasi dokter atau apoteker.

Ringkasan singkat

Alpara Kaplet adalah nama merek dagang untuk obat kombinasi yang digunakan untuk membantu meredakan gejala pilek/flu yang disertai batuk (misalnya demam, sakit kepala, hidung tersumbat, bersin-bersin, dan batuk kering). Cara kerjanya berasal dari gabungan beberapa zat aktif: penurun demam/pereda nyeri, dekongestan (pelega hidung tersumbat), antihistamin (mengurangi bersin/pilek), dan penekan batuk. Catatan penting: obat ini meringankan gejala, tetapi tidak “membunuh” virus penyebab flu jika keluhan berat atau menetap, perlu evaluasi tenaga kesehatan.

Catatan varian: beberapa merek dapat memiliki varian berbeda (misalnya kode/embel-embel tertentu). Pastikan kandungan pada kemasan karena varian bisa berbeda.

Fakta cepat

  • Nama generik: kombinasi paracetamol + phenylpropanolamine HCl + chlorpheniramine maleate + dextromethorphan HBr
  • Nama merek dagang: Alpara
  • Kandungan zat aktif: per 1 kaplet mengandung paracetamol 500 mg + phenylpropanolamine HCl 12,5 mg + chlorpheniramine maleate 2 mg + dextromethorphan HBr 15 mg
  • Kelas obat: kombinasi analgesik–antipiretik (pereda nyeri–penurun demam) + dekongestan + antihistamin + antitusif (penekan batuk)
  • Manfaat utama: membantu meredakan demam/nyeri, hidung tersumbat, bersin/pilek, dan batuk kering pada pilek/flu
  • Bentuk sediaan yang umum: kaplet (Alpara Kaplet); pada beberapa produk tersedia juga bentuk cair (sirup)
  • Penggunaan pada anak: umumnya tidak dianjurkan untuk anak < 6 tahun; usia 6–12 tahun biasanya ada dosis khusus (lihat bagian dosis). Bila ragu, konsultasikan dokter/apoteker.
  • Catatan resep (perlu resep dokter): tidak selalu perlu resep, tetapi termasuk obat bebas terbatas gunakan hati-hati dan hindari menggabungkan dengan obat flu/batuk lain tanpa saran tenaga kesehatan.
  • Ejaan alternatif: Alpara; “caplet/kaplet” (penulisan dapat berbeda di toko/layanan)

Cara kerja (penjelasan sederhana)

Alpara Kaplet menggabungkan beberapa mekanisme. Paracetamol membantu menurunkan demam dan meredakan nyeri (misalnya sakit kepala). Phenylpropanolamine adalah dekongestan yang membantu melegakan hidung tersumbat dengan menyempitkan pembuluh darah di rongga hidung yang sedang bengkak. Chlorpheniramine adalah antihistamin yang membantu mengurangi bersin dan hidung berair, tetapi dapat menyebabkan kantuk. Dextromethorphan bekerja pada pusat batuk di otak sehingga membantu menekan batuk kering (batuk tanpa dahak).

Peringatan penting sebelum menggunakan

  • Alergi/kontraindikasi penting: jangan gunakan bila pernah alergi terhadap salah satu kandungan (misalnya paracetamol atau antihistamin), atau pernah mengalami reaksi alergi berat (bengkak wajah, sesak, ruam menyeluruh) setelah minum obat sejenis.
  • Hati-hati pada kondisi tertentu (diskusikan dengan dokter/apoteker sebelum memakai), terutama:
    • Hipertensi (tekanan darah tinggi), penyakit jantung, riwayat stroke, atau berdebar hebat (karena dekongestan dapat menaikkan tekanan darah/denyut).
    • Glaukoma sudut sempit (tekanan bola mata tinggi jenis tertentu) dan sulit berkemih/pembesaran prostat (antihistamin dapat memperburuk keluhan).
    • Gangguan hati atau kebiasaan konsumsi alkohol (risiko efek samping paracetamol pada hati meningkat bila dosis berlebih atau ada faktor risiko).
    • Asma, emfisema, atau batuk berdahak kental: penekan batuk tidak selalu cocok; perlu penilaian penyebab batuk.
    • Diabetes atau hipertiroid (kelenjar tiroid terlalu aktif): dekongestan dapat memperburuk gejala tertentu.
  • Kantuk dan fokus menurun: chlorpheniramine dapat menyebabkan kantuk. Hindari mengemudi, mengoperasikan mesin, atau aktivitas berisiko sampai Anda tahu efeknya pada tubuh Anda.
  • Jangan menggandakan produk sejenis: banyak obat flu/batuk lain juga mengandung paracetamol, antihistamin, atau dekongestan. Menggabungkan dapat meningkatkan risiko overdosis dan efek samping.
  • “Jangan menghentikan mendadak”: umumnya tidak relevan karena obat ini dipakai jangka pendek untuk gejala. Namun, jangan memperpanjang pemakaian tanpa evaluasi bila keluhan tidak membaik.
  • Segera cari pertolongan medis bila terjadi: sesak napas, bibir/wajah bengkak, ruam hebat/melepuh, nyeri dada, pingsan, sakit kepala sangat berat mendadak, jantung berdebar tidak biasa, kebingungan berat/gelisah ekstrem, atau mata/kulit menguning.

Dosis Alpara Kaplet (dosis umum)

Dosis dapat berbeda pada tiap orang. Ikuti resep dokter. Jika digunakan tanpa resep, ikuti aturan pakai pada kemasan dan minta saran apoteker bila memiliki penyakit penyerta atau sedang minum obat lain.

  • Dewasa: umumnya 1 kaplet, 3 kali sehari.
  • Lansia (bila relevan): umumnya mengikuti dosis dewasa, tetapi mulai dengan kehati-hatian karena risiko kantuk, pusing, dan efek antikolinergik (misalnya mulut kering, sulit berkemih) bisa lebih terasa. Konsultasikan apoteker/dokter.
  • Anak (bila relevan): usia 6–12 tahun umumnya ½ kaplet, 3 kali sehari. Anak < 6 tahun: umumnya tidak dianjurkan (gunakan hanya bila dokter menyarankan; data dan keamanan tergantung kondisi serta sediaan).
  • Penyesuaian pada gangguan ginjal atau gangguan hati: data terbatas untuk kombinasi ini. Pada gangguan hati, risiko efek samping paracetamol meningkat konsultasikan dokter untuk batas dosis yang aman. Pada gangguan ginjal, konsultasikan dokter bila perlu penggunaan berulang.

Cara menggunakan Alpara Kaplet dengan benar

  • Kapan diminum: umumnya diminum sesudah makan untuk mengurangi rasa tidak nyaman di lambung.
  • Frekuensi: bila dianjurkan 3 kali sehari, usahakan diminum pada jam yang kurang lebih sama tiap hari selama masih diperlukan.
  • Jika lupa dosis: minum segera saat ingat. Jika sudah dekat dengan jadwal dosis berikutnya, lewati dosis yang terlupa dan lanjutkan jadwal biasa. Jangan menggandakan dosis.
  • Hal yang perlu dipantau:
    • Perbaikan gejala dalam 2–3 hari. Bila demam tinggi menetap, batuk memburuk, atau muncul sesak, periksa ke dokter.
    • Kantuk/pusing (terutama saat pertama kali minum).
    • Berdebar atau tekanan darah terasa naik (terutama bila punya hipertensi).
    • Tanda overdosis paracetamol: mual hebat, nyeri perut kanan atas, lemas berat, atau kulit/mata menguning segera ke fasilitas kesehatan.

Interaksi dengan obat lain

  • Obat lain yang juga mengandung paracetamol (misalnya obat demam/nyeri atau obat flu lain): meningkatkan risiko overdosis dan gangguan hati.
  • Alkohol serta obat penenang (misalnya obat tidur, obat anti-cemas, opioid tertentu): dapat memperberat kantuk, pusing, dan menurunkan kewaspadaan.
  • Antidepresan/obat tertentu yang memengaruhi serotonin misalnya SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor), SNRI (serotonin-norepinephrine reuptake inhibitor), trisiklik, atau MAOI (monoamine oxidase inhibitor): kombinasi dengan dextromethorphan dapat meningkatkan risiko sindrom serotonin (kondisi serius akibat serotonin terlalu tinggi).
  • MAOI juga dapat berinteraksi dengan dekongestan seperti phenylpropanolamine dan memicu krisis hipertensi (tekanan darah sangat tinggi yang berbahaya). Umumnya perlu jeda setelah penggunaan MAOI konsultasikan dokter.
  • Obat untuk tekanan darah atau obat stimulan (termasuk dekongestan lain pada obat pilek): dapat meningkatkan risiko jantung berdebar/tekanan darah naik.
  • Warfarin (pengencer darah): penggunaan paracetamol dosis tinggi atau beberapa hari berturut-turut dapat memengaruhi pembekuan darah pada sebagian orang; pemantauan dokter diperlukan.
  • Obat dengan efek antikolinergik (misalnya beberapa obat alergi, obat depresi tertentu): dapat memperberat mulut kering, konstipasi, atau sulit berkemih.

Sampaikan semua obat, suplemen, dan produk herbal yang digunakan kepada dokter atau apoteker.

Efek samping

  1. Efek samping yang relatif sering (ringan–sedang):

    • Kantuk, pusing, sulit konsentrasi.
    • Mulut kering, tenggorokan kering, penglihatan agak kabur.
    • Mual, tidak nyaman di lambung.
    • Gelisah atau sulit tidur pada sebagian orang (terutama terkait dekongestan).
    • Jantung berdebar atau tekanan darah terasa naik pada sebagian orang.
  2. Tanda bahaya: kapan harus segera ke dokter atau unit gawat darurat:

    • Reaksi alergi berat: sesak, mengi, bengkak wajah/bibir/kelopak mata, ruam menyeluruh.
    • Sakit kepala hebat mendadak, leher kaku, gangguan bicara, kelemahan satu sisi tubuh, atau penglihatan mendadak terganggu.
    • Jantung berdebar kuat disertai nyeri dada, pingsan, atau sesak.
    • Tanda gangguan hati: mual hebat menetap, nyeri perut kanan atas, urin gelap, kulit/mata menguning.
    • Gejala sindrom serotonin: gelisah berat, berkeringat berlebihan, gemetar/kaku otot, demam, diare, denyut cepat, kebingungan.

Efek samping tidak selalu terjadi pada semua orang. Bila efek samping mengganggu atau muncul gejala yang tidak biasa, hentikan penggunaan dan konsultasikan tenaga kesehatan.

Kehamilan dan menyusui

  • Kehamilan: karena Alpara Kaplet adalah obat kombinasi (termasuk dekongestan seperti phenylpropanolamine), penggunaannya pada kehamilan sebaiknya dihindari kecuali atas anjuran dokter. Diskusikan pilihan yang lebih aman, terutama pada trimester pertama.
  • Menyusui: beberapa komponen (misalnya paracetamol dan dextromethorphan) umumnya dianggap relatif aman pada dosis lazim, tetapi antihistamin dapat menyebabkan kantuk pada ibu/bayi dan dekongestan dapat menurunkan produksi ASI pada sebagian orang. Karena ini kombinasi, konsultasikan dokter/apoteker sebelum menggunakan saat menyusui.

Penyimpanan

  • Simpan pada suhu ruang, di tempat kering, dan terlindung dari panas serta cahaya matahari langsung.
  • Jauhkan dari kelembapan (hindari menyimpan di kamar mandi).
  • Simpan dalam kemasan aslinya dan jauh dari jangkauan anak.

Referensi dan terakhir diperbarui

  • Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) – Cek Produk
  • Alodokter – Informasi obat “Alpara” (komposisi dan dosis umum)
  • Alomedika – Informasi phenylpropanolamine (peringatan serta penggunaan pada kehamilan/menyusui)
  • NCBI Bookshelf (LactMed) – Acetaminophen (paracetamol)
  • NCBI Bookshelf (LactMed) – Chlorpheniramine
  • NCBI Bookshelf (LactMed) – Dextromethorphan

Terakhir diperbarui: 3 Februari 2026

Back to blog

Leave a comment