Strategi Rehidrasi Saat Berbuka: Perlukah Minuman Isotonik?

Strategi Rehidrasi Saat Berbuka: Perlukah Minuman Isotonik?

Setelah berpuasa seharian, tubuh mengalami penurunan cairan dan elektrolit. Rasa haus, lemas, hingga sakit kepala ringan sering muncul akibat dehidrasi ringan. Karena itu, rehidrasi saat berbuka menjadi langkah penting untuk mengembalikan keseimbangan cairan tubuh. Pertanyaannya, perlukah minuman isotonik untuk tujuan ini?

Mengapa Rehidrasi Itu Penting?
Selama puasa, tubuh tidak mendapatkan asupan cairan selama kurang lebih 12–14 jam (tergantung durasi puasa). Tubuh tetap kehilangan cairan melalui:
- Keringat
- Pernapasan
- Urine
Jika tidak segera diganti, kondisi ini bisa menyebabkan dehidrasi ringan hingga sedang. Gejalanya meliputi:
- Haus berlebihan
- Mulut kering
- Lemas
- Pusing
- Konsentrasi menurun
Karena itu, strategi rehidrasi yang tepat saat berbuka sangat diperlukan.

Apa Itu Minuman Isotonik?
Minuman isotonik adalah minuman dengan konsentrasi gula dan elektrolit yang mirip dengan cairan tubuh, sehingga lebih cepat diserap usus. Contoh produk yang dikenal luas di Indonesia adalah Pocari Sweat dan Mizone.
Minuman ini biasanya mengandung:
- Air
- Natrium
- Kalium
- Gula sederhana
Fungsinya adalah mengganti cairan dan elektrolit yang hilang, terutama setelah aktivitas fisik berat atau banyak berkeringat.

Strategi Rehidrasi yang Tepat Saat Berbuka
1. Mulai dengan Air Putih
Air putih tetap menjadi pilihan utama untuk mengatasi haus. Minum 1–2 gelas air saat berbuka membantu menghidrasi tubuh secara bertahap tanpa membebani lambung.
2. Tambahkan Elektrolit Jika Diperlukan
Jika selama puasa Anda banyak berkeringat (misalnya karena aktivitas fisik tinggi atau cuaca panas), minuman isotonik dapat membantu mengganti elektrolit lebih cepat.
Namun, jika aktivitas Anda ringan (misalnya bekerja di ruangan ber-AC), air putih sebenarnya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan cairan.
3. Hindari Minuman Terlalu Manis Berlebihan
Minuman tinggi gula bisa menyebabkan lonjakan gula darah yang cepat, lalu turun drastis sehingga tubuh terasa lemas kembali. Karena itu, konsumsi minuman manis—termasuk isotonik—sebaiknya tidak berlebihan.
4. Terapkan Pola Bertahap
Gunakan pola 2–4–2:
- 2 gelas saat berbuka
- 4 gelas antara berbuka dan sahur
- 2 gelas saat sahur
Strategi ini membantu menjaga keseimbangan cairan tanpa membuat perut terasa penuh sekaligus.

Jadi, Perlukah Minuman Isotonik?
Jawabannya: tergantung kondisi tubuh dan tingkat aktivitas Anda.
Minuman isotonik bermanfaat jika:
- Anda mengalami dehidrasi cukup berat
- Banyak berkeringat
- Berolahraga sebelum berbuka
Namun untuk kebanyakan orang dengan aktivitas normal, air putih sudah cukup efektif untuk rehidrasi saat berbuka.

Kembali ke blog