Bufacomb Cream

Bufacomb Cream: Manfaat, Dosis, Cara Pakai, Interaksi, Efek Samping

Golongan: Obat resep. Gunakan sesuai resep dokter. Informasi ini untuk edukasi dan tidak menggantikan konsultasi dokter atau apoteker.

Ringkasan singkat

Bufacomb Cream adalah nama merek dagang untuk triamcinolone acetonide (kortikosteroid) dalam bentuk krim “in oral base” yang dipakai di dalam rongga mulut untuk membantu meredakan radang, nyeri, dan bengkak pada luka/ulkus mulut (misalnya sariawan atau luka karena trauma seperti tergigit atau gesekan kawat gigi). Cara kerjanya menenangkan peradangan sehingga keluhan lebih cepat mereda.

Catatan penting: obat ini bukan antibiotik dan bukan obat antijamur/antivirus. Jika luka mulut disertai infeksi (misalnya sariawan jamur atau lesi herpes), penggunaan kortikosteroid bisa memperburuk kondisi bila tidak ditangani dengan tepat.

Artikel ini membahas Bufacomb Cream (in oral base) triamcinolone acetonide 0,1% (1 mg per gram), umumnya dalam tube 5 gram. Pastikan kandungan pada kemasan karena merek yang sama dapat memiliki varian berbeda.

Fakta cepat

  • Nama generik: triamcinolone acetonide
  • Nama merek dagang: Bufacomb Cream
  • Kandungan zat aktif: triamcinolone acetonide 0,1% (setara 1 mg/gram)
  • Kelas obat: kortikosteroid topikal (antiinflamasi), untuk pemakaian di mukosa mulut
  • Manfaat utama: membantu meredakan peradangan dan keluhan nyeri pada lesi/luka ulseratif di rongga mulut (misalnya sariawan atau luka karena trauma)
  • Bentuk sediaan yang umum: krim “in oral base” (dioleskan pada bagian dalam mulut), sering dikemas tube 5 g
  • Penggunaan pada anak (jika ada; kalau tidak ada, tulis data terbatas): dapat diresepkan dokter pada kondisi tertentu, namun sebaiknya hanya atas anjuran dokter dan gunakan jumlah sesedikit mungkin; data rinci pada anak bisa terbatas
  • Catatan resep (tegas: perlu resep dokter): perlu resep dokter dan tidak dianjurkan untuk pemakaian sendiri tanpa evaluasi
  • Ejaan alternatif: “Bufacomb Krim”, “Bufacomb IOB (in oral base)”

Cara kerja (penjelasan sederhana)

Triamcinolone acetonide adalah kortikosteroid yang bekerja menekan proses peradangan di area yang diolesi. Saat terjadi luka/iritasi di mukosa mulut, tubuh melepaskan zat-zat pemicu radang yang membuat area menjadi merah, bengkak, dan nyeri.

Dengan mengurangi respons peradangan tersebut, rasa perih dan bengkak biasanya berkurang. Basis “in oral base” membantu obat menempel lebih lama pada luka di mulut sehingga efek lokalnya lebih optimal. Meski utamanya bekerja lokal, bila dipakai berlebihan atau terlalu lama, sebagian kecil steroid bisa terserap dan menimbulkan efek di seluruh tubuh.

Peringatan penting sebelum menggunakan

  • Alergi/kontraindikasi: jangan gunakan bila Anda pernah alergi terhadap triamcinolone, kortikosteroid lain, atau komponen krim. Hentikan pemakaian dan cari pertolongan medis bila muncul gatal-gatal hebat, bengkak pada wajah/bibir/lidah, atau sesak napas.
  • Jangan digunakan bila ada infeksi di mulut/tenggorokan yang belum ditangani: termasuk infeksi jamur, bakteri, atau virus (misalnya lesi herpes). Konsultasikan dulu karena mungkin perlu terapi antimikroba.
  • Hanya untuk bagian dalam mulut: tidak untuk mata dan tidak untuk kulit (kecuali dokter memang meresepkan untuk tujuan lain). Bila tidak sengaja terkena mata, bilas dengan air mengalir.
  • Kondisi yang perlu kehati-hatian: riwayat diabetes melitus (gula darah tinggi), tukak lambung (luka pada lambung), gangguan hati, gangguan kelenjar adrenal, glaukoma/katarak, atau sedang mengalami infeksi sistemik. Beri tahu dokter bila Anda memiliki kondisi-kondisi ini.
  • Batasi durasi pemakaian: jangan menggunakan lebih lama dari yang dianjurkan dokter. Pemakaian terlalu sering/terlalu lama meningkatkan risiko iritasi, infeksi sekunder, dan efek steroid sistemik.
  • Kapan harus segera mencari pertolongan medis: reaksi alergi berat; luka makin luas/nyeri hebat; demam; muncul nanah; sulit menelan; atau gejala perdarahan saluran cerna seperti BAB hitam atau muntah seperti ampas kopi.
  • Jika keluhan tidak membaik: bila tidak tampak perbaikan dalam sekitar 7 hari, atau belum membaik setelah 2 minggu, sebaiknya kontrol untuk evaluasi penyebab luka mulut.

Dosis Bufacomb Cream (dosis umum)

Dosis dapat berbeda pada tiap orang. Ikuti resep dokter.

  • Dewasa: umumnya dioleskan tipis pada area luka di dalam mulut 2–3 kali sehari. Banyak aturan pakai menganjurkan pemakaian setelah makan dan sebelum tidur agar obat lebih lama menempel.
  • Lansia (bila relevan): umumnya sama seperti dewasa, namun lebih hati-hati bila memiliki banyak penyakit penyerta atau memakai banyak obat.
  • Anak (bila relevan; bila data terbatas, tulis jelas): hanya bila diresepkan dokter. Gunakan jumlah sesedikit mungkin untuk melapisi luka; pemantauan lebih ketat diperlukan karena anak bisa lebih sensitif terhadap efek steroid. Bila ragu, minta arahan dokter/apoteker tentang cara dan lama pemakaian.
  • Penyesuaian pada gangguan ginjal atau gangguan hati (bila relevan; kalau tidak ada data, tulis data terbatas): karena pemakaian umumnya lokal, biasanya tidak ada penyesuaian khusus. Namun data rinci dapat terbatas; bila digunakan sering/berkepanjangan atau ada gangguan hati berat, konsultasikan karena steroid yang terserap terutama diproses di hati.

Cara menggunakan Bufacomb Cream dengan benar

  • Kapan digunakan: umumnya setelah makan dan/atau sebelum tidur. Mengoleskan setelah makan membantu obat tidak cepat hilang karena aktivitas mengunyah/minum.
  • Frekuensi dan jam yang sama: gunakan sesuai resep (misalnya 2–3 kali sehari) dan usahakan pada waktu yang relatif sama setiap hari.
  • Langkah pemakaian yang membantu obat menempel:
    • Cuci tangan sebelum dan sesudah pemakaian.
    • Bila memungkinkan, keringkan area luka (misalnya dengan kasa bersih) agar krim lebih menempel.
    • Ambil sedikit krim (secukupnya) dengan jari bersih atau cotton bud, lalu tekan perlahan pada luka sampai terbentuk lapisan tipis. Hindari menggosok kuat karena bisa membuat krim “menggumpal” dan mudah lepas.
    • Setelah dioleskan, usahakan tidak makan/minum dulu selama beberapa waktu agar lapisan tidak cepat hilang.
  • Jika lupa dosis: oleskan segera saat ingat. Jika sudah dekat dengan jadwal berikutnya, lewati dosis yang terlupa dan kembali ke jadwal biasa. Jangan menggandakan pemakaian.
  • Hal yang perlu dipantau:
    • Apakah nyeri dan kemerahan mulai membaik dalam beberapa hari.
    • Tanda infeksi jamur (misalnya bercak putih yang mudah lepas, nyeri terbakar) atau infeksi lain yang memburuk.
    • Bila pemakaian sering/berkepanjangan: waspadai tanda efek steroid sistemik seperti mudah haus, sering buang air kecil, atau lemas tidak biasa (konsultasikan segera).

Interaksi dengan obat lain

  • Catatan umum: interaksi lebih mungkin terjadi bila obat dipakai dalam jumlah banyak atau jangka panjang sehingga penyerapan steroid meningkat.
  • Obat antikolinergik (misalnya atropin): dapat berhubungan dengan peningkatan tekanan dalam bola mata pada paparan steroid yang bermakna.
  • Isoniazid (obat tuberkulosis): efektivitasnya dapat menurun bila terpapar steroid dalam kadar sistemik.
  • Obat antiinflamasi nonsteroid (misalnya ibuprofen, asam mefenamat, diklofenak): kombinasi dengan steroid (terutama bila terserap) dapat meningkatkan risiko iritasi atau perdarahan saluran cerna pada sebagian orang.
  • Amfoterisin B atau obat diuretik (obat “pelancar kencing”): dapat meningkatkan risiko hipokalemia (kadar kalium rendah) bila terjadi efek steroid sistemik.
  • Obat antiaritmia (obat gangguan irama jantung): pada kondisi tertentu dapat meningkatkan risiko masalah irama jantung (misalnya pemanjangan interval QT pada pemeriksaan jantung) bila efek sistemik terjadi.
  • Obat antihipertensi (obat tekanan darah): efek penurun tekanan darah dapat berkurang bila steroid terserap bermakna.
  • Ciclosporin atau kortikosteroid lain: dapat meningkatkan risiko efek samping dan infeksi karena efek penekanan daya tahan tubuh bertambah.
  • Obat antidiabetes dan insulin: steroid dapat menaikkan gula darah sehingga obat diabetes bisa terasa “kurang efektif”; pemantauan gula darah mungkin diperlukan pada sebagian pasien.
  • Produk lain yang juga dimasukkan ke mulut (misalnya obat oles mulut lain, obat kumur tertentu, produk herbal): bisa memengaruhi iritasi atau daya lekat obat; beri jarak pemakaian bila disarankan apoteker.

Sampaikan semua obat, suplemen, dan produk herbal yang digunakan kepada dokter atau apoteker.

Efek samping

  1. Efek samping yang relatif sering (ringan–sedang)

    • Rasa perih, terbakar, atau iritasi di area yang diolesi
    • Kemerahan atau kering pada mukosa mulut
    • Rasa tidak nyaman setempat
    • Dapat terjadi infeksi sekunder di mulut (misalnya jamur) terutama bila pemakaian lama
  2. Tanda bahaya: kapan harus segera ke dokter atau unit gawat darurat

    • Reaksi alergi berat: bengkak pada wajah/bibir/lidah/tenggorokan, sesak napas, pusing berat
    • Tanda perdarahan saluran cerna: nyeri ulu hati hebat, BAB hitam, atau muntah seperti ampas kopi
    • Tanda gula darah meningkat (terutama pada pasien diabetes): sangat haus, sering buang air kecil, sangat lapar, mulut kering
    • Tanda penekanan fungsi kelenjar adrenal (jarang, biasanya karena pemakaian berlebihan/berkepanjangan): lemas ekstrem, sakit kepala berat, penurunan berat badan tidak jelas, atau gangguan penglihatan
    • Luka mulut memburuk, meluas, bernanah, disertai demam, atau sulit menelan

Efek samping tidak selalu terjadi pada semua orang. Banyak orang hanya merasakan perbaikan gejala dengan efek samping minimal bila digunakan sesuai petunjuk.

Kehamilan dan menyusui

  • Kehamilan: data pada manusia terbatas untuk pemakaian di mukosa mulut. Kortikosteroid topikal umumnya dipakai bila manfaatnya dianggap lebih besar daripada risikonya. Diskusikan dengan dokter, terutama bila perlu pemakaian berulang atau jangka panjang.
  • Menyusui: belum jelas apakah pemakaian di mulut dapat menyebabkan kadar steroid yang bermakna masuk ke air susu ibu. Gunakan hanya bila dianjurkan dokter. Jika Anda menyusui, minta saran dokter/apoteker tentang pilihan terapi dan cara pakai yang paling aman.

Penyimpanan

  • Simpan pada suhu ruang (umumnya di bawah 30°C), di tempat kering, tidak lembap, dan terhindar dari panas serta sinar matahari langsung.
  • Tutup rapat setelah digunakan.
  • Jauhkan dari jangkauan anak-anak.
  • Jangan gunakan bila sudah melewati tanggal kedaluwarsa. Jika ada aturan khusus “masa pakai setelah dibuka” pada kemasan, ikuti petunjuk tersebut.

Referensi dan terakhir diperbarui

  • Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM) – Portal Cek BPOM (pencarian nomor registrasi/izin edar).
  • Alodokter – Informasi produk Bufacomb Krim 5 g (komposisi, aturan pakai, peringatan, interaksi, efek samping).
  • DailyMed (U.S. National Library of Medicine) – Informasi label “Triamcinolone Acetonide Dental Paste USP 0,1%” (indikasi, kontraindikasi, cara pakai, kehati-hatian).
  • WebMD – Informasi pasien triamcinolone acetonide dental paste (penggunaan dan peringatan umum).
  • Situs produsen – PT Bufa Aneka (informasi kategori produk Bufacomb Cream sebagai obat resep).

Terakhir diperbarui: 9 Januari 2026

Kembali ke blog

Tulis komentar