Sumagesic Tablet

Sumagesic Tablet: Manfaat, Dosis, Cara Pakai, Interaksi, Efek Samping

Golongan: Obat bebas (tanpa resep). Gunakan sesuai aturan pakai pada kemasan atau anjuran dokter/apoteker. Informasi ini untuk edukasi dan tidak menggantikan konsultasi dokter atau apoteker.

Ringkasan singkat

Sumagesic Tablet adalah nama merek dagang untuk paracetamol (parasetamol/acetaminophen); pada halaman ini dibahas tablet 600 mg. Obat ini digunakan untuk meredakan nyeri ringan–sedang (misalnya sakit kepala, sakit gigi, nyeri otot, nyeri haid) dan menurunkan demam. Paracetamol bekerja terutama di sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang) sehingga membantu menurunkan rasa nyeri dan mengatur suhu tubuh. Catatan penting yang sering keliru: paracetamol meredakan gejala, bukan mengobati penyebabnya (misalnya infeksi), dan bisa berbahaya bila melebihi dosis maksimum atau bila tanpa sadar diminum bersamaan dari beberapa produk.

Penting (Mode merek): pastikan kandungan pada kemasan karena varian/kemasan bisa berbeda (misalnya bentuk sirup pada merek/produk lain).

Fakta cepat

  • Nama generik: paracetamol (parasetamol) / acetaminophen
  • Nama merek dagang: Sumagesic (Tablet)
  • Kandungan zat aktif: paracetamol 600 mg per tablet
  • Kelas obat: analgesik (pereda nyeri) non-opioid dan antipiretik (penurun demam)
  • Manfaat utama: menurunkan demam; meredakan nyeri seperti sakit kepala, sakit gigi, nyeri otot/sendi, nyeri haid
  • Bentuk sediaan yang umum: tablet; paracetamol juga tersedia luas sebagai sirup/tetes (terutama untuk anak)
  • Penggunaan pada anak (jika ada; kalau tidak ada, tulis data terbatas): bisa digunakan dengan dosis berdasarkan berat badan, tetapi tablet 600 mg kurang ideal untuk anak kecil karena berisiko salah takar bila dibagi; pertimbangkan sediaan anak dan konsultasi apoteker
  • Catatan resep (tegas: perlu resep dokter): umumnya tidak memerlukan resep, namun tetap perlu kehati-hatian terutama untuk mencegah dobel paracetamol dari obat flu/batuk/nyeri lain
  • Kekuatan yang dibahas: tablet 600 mg
  • Ejaan alternatif (bila ada): parasetamol (untuk paracetamol)

Cara kerja (penjelasan sederhana)

Paracetamol membantu mengurangi rasa nyeri dengan memengaruhi proses penghantaran sinyal nyeri di sistem saraf pusat. Obat ini juga membantu menurunkan demam dengan bekerja pada pusat pengatur suhu di otak (sering disebut hipotalamus). Secara sederhana, paracetamol membantu “menyetel ulang” respons tubuh terhadap nyeri dan suhu. Paracetamol bukan antiinflamasi kuat, jadi untuk nyeri karena peradangan tertentu, dokter kadang memilih obat lain atau kombinasi sesuai kondisi.

Peringatan penting sebelum menggunakan

  • Alergi/kontraindikasi penting: jangan gunakan bila Anda pernah alergi terhadap paracetamol/acetaminophen atau pernah mengalami reaksi alergi berat setelah meminumnya.
  • Waspada reaksi kulit berat (jarang tetapi serius): bila muncul ruam menyeluruh, kulit melepuh, atau luka pada mulut/mata, hentikan dan segera cari pertolongan medis.
  • Penyakit hati: hindari atau gunakan dengan pengawasan ketat bila memiliki penyakit hati, riwayat hepatitis, atau kebiasaan konsumsi alkohol. Paracetamol dosis berlebihan dapat menyebabkan kerusakan hati.
  • Gangguan ginjal, berat badan rendah, malnutrisi, atau dehidrasi: perlu kehati-hatian karena risiko efek samping dapat meningkat; konsultasikan dengan dokter/apoteker.
  • Hindari “dobel paracetamol”: banyak obat flu, batuk, demam, dan nyeri juga mengandung paracetamol. Menggabungkan beberapa produk bisa membuat total dosis harian berlebihan tanpa disadari.
  • Alkohol: hindari atau batasi alkohol karena dapat meningkatkan risiko gangguan hati saat menggunakan paracetamol.
  • Tidak relevan “stop mendadak”: Sumagesic umumnya dipakai bila perlu; tidak ada aturan wajib “tapering” (menurunkan bertahap). Namun, jangan memakai terus-menerus dalam jangka panjang tanpa evaluasi tenaga kesehatan.
  • Segera cari pertolongan medis bila terjadi sesak napas, bengkak pada wajah/bibir, pingsan, muntah hebat berulang, nyeri perut kanan atas, kulit/mata menguning, urin gelap, atau bila dicurigai kelebihan dosis.

Dosis Sumagesic Tablet (dosis umum)

Dosis dapat berbeda pada tiap orang. Ikuti resep dokter.

  • Dewasa: umumnya 1 tablet (600 mg) 3–4 kali sehari bila perlu, dengan jarak sekitar 4–6 jam antar dosis. Batas maksimum total paracetamol dari semua sumber umumnya 4.000 mg per 24 jam. Untuk tablet 600 mg, agar tetap di bawah batas tersebut, jangan melebihi 6 tablet (3.600 mg) dalam 24 jam kecuali dokter mengarahkan lain.
  • Lansia (bila relevan): sering kali sama seperti dewasa, tetapi dokter/apoteker dapat menyarankan dosis lebih rendah atau interval lebih panjang bila berat badan rendah atau ada gangguan hati/ginjal.
  • Anak (bila relevan; bila data terbatas, tulis jelas): paracetamol pada anak umumnya dihitung berdasarkan berat badan: 10–15 mg/kg berat badan per dosis, dapat diulang tiap 4–6 jam bila perlu. Maksimum harian sering dibatasi sekitar 60 mg/kg berat badan per 24 jam (atau sesuai anjuran dokter). Tablet 600 mg tidak praktis untuk anak kecil dan berisiko salah dosis jika dibagi; sebaiknya gunakan sediaan khusus anak dan konsultasikan apoteker untuk penakarannya.
  • Penyesuaian pada gangguan ginjal atau gangguan hati (bila relevan; kalau tidak ada data, tulis data terbatas): pada gangguan hati, dosis maksimum biasanya perlu diturunkan atau penggunaan dihindari konsultasikan dokter. Pada gangguan ginjal berat, dokter dapat menyarankan interval dosis lebih jarang. Data rinci untuk setiap kondisi bervariasi, jadi minta arahan tenaga kesehatan.

Cara menggunakan Sumagesic Tablet dengan benar

  • Kapan diminum: dapat diminum dengan atau tanpa makanan. Jika perut terasa tidak nyaman, boleh diminum setelah makan.
  • Frekuensi: gunakan sesuai kebutuhan dan aturan pakai; bila perlu beberapa kali dalam sehari, usahakan jarak dosis konsisten (misalnya setiap 6 jam) dan jangan melebihi batas maksimum harian.
  • Upayakan jam yang sama bila digunakan teratur sementara waktu (misalnya untuk demam), agar tidak “dobel” dosis.
  • Jika lupa dosis: bila Anda memang mengonsumsi terjadwal dan lupa satu dosis, minum saat ingat jika masih jauh dari jadwal berikutnya. Jika sudah dekat, lewati dosis yang terlupa. Jangan menggandakan dosis.
  • Hal yang perlu dipantau: catat suhu tubuh bila untuk demam, pantau perbaikan nyeri, dan pantau total paracetamol dari semua obat yang diminum hari itu. Bila demam menetap, nyeri memburuk, atau keluhan sering berulang, konsultasikan dokter.

Interaksi dengan obat lain

  • Warfarin dan antikoagulan sejenis: penggunaan paracetamol rutin (terutama dosis tinggi beberapa hari) dapat meningkatkan risiko perdarahan pada sebagian orang; pemantauan diperlukan.
  • Obat pemicu enzim hati (misalnya rifampisin, carbamazepine, phenytoin, phenobarbital, primidone): dapat meningkatkan risiko toksisitas/kerusakan hati bila paracetamol digunakan berlebihan.
  • Isoniazid (obat tuberkulosis): dapat meningkatkan risiko gangguan hati bila digunakan bersamaan.
  • Probenecid (untuk asam urat): dapat memengaruhi kadar paracetamol; tenaga kesehatan mungkin menyarankan penyesuaian.
  • Cholestyramine (penurun kolesterol): dapat menurunkan penyerapan paracetamol bila diminum berdekatan; biasanya perlu diberi jarak waktu.
  • Metoclopramide atau domperidone: dapat mempercepat penyerapan paracetamol (efek terasa lebih cepat pada sebagian orang).
  • Obat lain yang mengandung paracetamol: meningkatkan risiko overdosis bila dipakai bersamaan (misalnya sebagian obat flu/batuk/nyeri kombinasi).
  • Alkohol: dapat meningkatkan risiko kerusakan hati, terutama bila dikonsumsi sering atau dalam jumlah besar.

Sampaikan semua obat, suplemen, dan produk herbal yang digunakan kepada dokter atau apoteker.

Efek samping

1) Efek samping yang relatif sering (ringan–sedang).

  • Mual, tidak nyaman di lambung.
  • Pusing ringan.
  • Ruam/kemerahan kulit ringan pada sebagian orang.

2) Tanda bahaya: kapan harus segera ke dokter atau unit gawat darurat.

  • Tanda reaksi alergi berat: bengkak pada wajah/bibir, gatal menyeluruh, sesak napas, pingsan.
  • Reaksi kulit berat: ruam luas, melepuh, kulit mengelupas, luka di mulut atau mata.
  • Tanda gangguan hati atau overdosis: mual/muntah hebat, nyeri perut kanan atas, lemas berat, kulit/mata menguning, urin gelap, kebingungan meski kadang gejala awal overdosis tidak jelas.

Efek samping tidak selalu terjadi pada semua orang. Banyak orang dapat menggunakan paracetamol dengan baik bila dosisnya sesuai.

Kehamilan dan menyusui

  • Kehamilan: paracetamol umumnya dianggap pilihan pereda nyeri/penurun demam yang dapat digunakan saat hamil bila diperlukan, dengan prinsip dosis terendah untuk durasi tersingkat. Jika Anda hamil dan membutuhkan obat nyeri/demam berulang atau dalam jangka lebih lama, konsultasikan dokter.
  • Menyusui: paracetamol dapat masuk ke ASI dalam jumlah kecil dan umumnya dinilai kompatibel saat menyusui bila digunakan sesuai dosis. Jika bayi tampak tidak biasa (misalnya muntah/diare atau sangat rewel), konsultasikan tenaga kesehatan.

Penyimpanan

  • Simpan pada suhu ruang (umumnya di bawah 30°C), kering, dan terhindar dari panas serta sinar matahari langsung.
  • Jauhkan dari kelembapan (hindari menyimpan di kamar mandi).
  • Simpan dalam kemasan aslinya bila memungkinkan.
  • Jauh dari jangkauan anak-anak.

Referensi dan terakhir diperbarui

  • NHS (UK) – Informasi paracetamol untuk dewasa (termasuk kehamilan & menyusui).
  • MedlinePlus (U.S. National Library of Medicine) – Acetaminophen: peringatan dan cara penggunaan.
  • LactMed (NIH) – Acetaminophen dalam menyusui.
  • DailyMed (NIH) – Label acetaminophen (peringatan kerusakan hati dan batas dosis harian).
  • BPOM RI – Cek produk terdaftar (cekbpom.pom.go.id) untuk verifikasi nomor izin edar pada kemasan.
  • MHRA (UK) – Pembaruan keselamatan penggunaan paracetamol pada kehamilan.

Terakhir diperbarui: 5 Februari 2026

Back to blog

Leave a comment