Soldextam Kaplet: Manfaat, Dosis, Cara Pakai, Interaksi, Efek Samping

Golongan: Obat resep. Gunakan sesuai resep dokter. Informasi ini untuk edukasi dan tidak menggantikan konsultasi dokter atau apoteker.
Ringkasan singkat
Soldextam adalah nama merek dagang untuk kombinasi dexamethasone + dexchlorpheniramine maleate dalam bentuk kaplet (dibahas: dexamethasone 0,5 mg + dexchlorpheniramine maleate 2 mg per kaplet). Obat ini umumnya dipakai untuk membantu meredakan reaksi alergi yang disertai peradangan (misalnya rinitis alergi berat, biduran, atau radang mata karena alergi) sesuai penilaian dokter. Cara kerjanya menggabungkan antihistamin (untuk mengurangi gejala alergi seperti bersin/gatal) dan kortikosteroid (obat “steroid” untuk menekan peradangan). Catatan penting: karena mengandung steroid, obat ini bukan “obat alergi biasa” untuk dipakai sembarangan atau jangka panjang—ikuti durasi dan dosis dari dokter.
Catatan varian: bila ada produk dengan nama serupa, pastikan kandungan pada kemasan karena varian bisa berbeda.
Fakta cepat
- Mode penamaan: Mode B (obat paten / merek dagang)
- Nama generik: dexamethasone + dexchlorpheniramine maleate
- Nama merek dagang: Soldextam Kaplet
- Kandungan zat aktif: dexamethasone 0,5 mg + dexchlorpheniramine maleate 2 mg (per kaplet)
- Kelas obat: kortikosteroid (antiinflamasi/penekan respons imun) + antihistamin H1 generasi pertama (dapat menyebabkan kantuk)
- Manfaat utama: membantu meredakan gejala alergi yang disertai peradangan (misalnya rinitis alergi berat/“hay fever”, urtikaria/biduran, dermatitis/eksim tertentu, konjungtivitis alergi)
- Bentuk sediaan yang umum: kaplet (obat minum)
- Ejaan alternatif (bila ada): Soldextam, Soldextam tablet, Soldextam caplet
- Penggunaan pada anak (jika ada): dapat dipertimbangkan pada anak usia sekolah (misalnya 6–12 tahun) hanya dengan resep dan pemantauan dokter; untuk usia lebih kecil, data terbatas dan umumnya tidak digunakan tanpa instruksi dokter
- Catatan resep (tegas: perlu resep dokter): perlu resep dokter (termasuk obat keras)
Cara kerja (penjelasan sederhana)
Saat alergi terjadi, tubuh melepaskan histamin yang bisa memicu bersin, hidung meler, gatal, mata berair, atau bentol pada kulit. Dexchlorpheniramine adalah antihistamin yang membantu menghambat efek histamin sehingga gejala alergi berkurang, tetapi dapat membuat mengantuk. Dexamethasone adalah kortikosteroid yang membantu menekan peradangan dan respons imun yang berlebihan, sehingga bengkak/kemerahan/nyeri akibat peradangan bisa mereda. Karena menekan respons imun, pemakaian steroid dapat membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi bila digunakan tidak tepat atau terlalu lama.
Peringatan penting sebelum menggunakan
- Alergi/hipersensitivitas: jangan gunakan bila pernah mengalami reaksi alergi terhadap dexamethasone, dexchlorpheniramine, atau obat antihistamin/kortikosteroid lainnya.
- Infeksi tertentu: kortikosteroid dapat memperburuk infeksi. Beri tahu dokter bila Anda sedang mengalami infeksi (misalnya demam, infeksi jamur, TBC/tuberkulosis, atau infeksi virus tertentu). Jika Anda baru kontak erat dengan cacar air atau campak, konsultasikan segera.
- Masalah mata tertentu: kehati-hatian pada riwayat glaukoma (tekanan bola mata tinggi), gangguan penglihatan, atau keluhan mata yang memburuk.
- Saluran cerna: kehati-hatian bila punya riwayat tukak lambung/maag berat atau perdarahan saluran cerna.
- Diabetes (kencing manis) dan tekanan darah tinggi: dexamethasone dapat meningkatkan gula darah dan dapat memengaruhi tekanan darah; pemantauan mungkin diperlukan.
- Gangguan prostat/berkemih: antihistamin generasi pertama bisa membuat sulit buang air kecil pada sebagian orang (misalnya pembesaran prostat).
- Mengemudi/aktivitas yang butuh fokus: obat ini bisa menyebabkan kantuk, pusing, atau penglihatan kabur—hindari mengemudi sampai Anda tahu bagaimana respons tubuh Anda.
- Jangan menghentikan mendadak (bila digunakan lebih lama): bila dokter meresepkan untuk pemakaian lebih dari beberapa minggu, penghentian biasanya perlu diturunkan bertahap (tapering) untuk mencegah masalah hormon adrenal.
- Kapan harus segera mencari pertolongan medis: sesak napas berat, bengkak pada wajah/bibir/kelopak mata, pingsan, ruam menyeluruh yang cepat memburuk; demam tinggi atau tanda infeksi berat; muntah darah atau BAB hitam; nyeri mata hebat atau perubahan penglihatan mendadak; kebingungan berat atau perubahan perilaku ekstrem.
Dosis Soldextam Kaplet (dosis umum)
Dosis dapat berbeda pada tiap orang. Ikuti resep dokter.
- Dewasa: umumnya 1–2 kaplet, 4 kali sehari. Banyak resep menganjurkan diminum setelah makan dan/atau menjelang tidur (ikuti instruksi pada resep).
- Lansia (bila relevan): dokter sering memulai dari dosis terendah yang efektif karena risiko kantuk, pusing, mulut kering, atau sulit berkemih bisa lebih menonjol pada lansia.
- Anak (bila relevan; bila data terbatas, tulis jelas): pada beberapa referensi, anak usia 6–12 tahun: 1/2 kaplet, 3–4 kali sehari. Untuk anak di bawah 6 tahun: data terbatas—jangan gunakan tanpa instruksi dokter.
- Penyesuaian pada gangguan ginjal atau gangguan hati (bila relevan; kalau tidak ada data, tulis data terbatas): data terbatas. Bila Anda memiliki gangguan hati atau ginjal, atau sedang memakai banyak obat lain, konsultasikan karena dokter mungkin perlu menyesuaikan dosis/durasi dan pemantauan.
Cara menggunakan Soldextam Kaplet dengan benar
- Kapan diminum: umumnya diminum bersama makanan atau setelah makan untuk membantu mengurangi keluhan lambung. Telan kaplet dengan air.
- Frekuensi dan anjuran jam yang sama: bila diresepkan beberapa kali sehari, usahakan jarak waktu relatif teratur dan minum pada jam yang sama setiap hari agar efek stabil.
- Jika lupa dosis: minum segera saat ingat. Jika sudah dekat dengan jadwal dosis berikutnya, lewati dosis yang terlupa dan kembali ke jadwal semula. Jangan menggandakan dosis.
- Hal yang perlu dipantau: rasa kantuk/pusing (terutama hari-hari awal), tanda infeksi (demam, nyeri tenggorokan), keluhan lambung, perubahan mood atau sulit tidur. Bila Anda punya diabetes, perhatikan gula darah karena steroid bisa meningkatkannya.
Interaksi dengan obat lain
- Alkohol dan obat yang membuat mengantuk (misalnya obat tidur, obat penenang, beberapa obat nyeri opioid): bisa meningkatkan kantuk dan menurunkan kewaspadaan.
- Antidepresan golongan monoamine oxidase inhibitor (MAOI) (misalnya fenelzin, tranilsipromin): dapat meningkatkan efek samping antihistamin; umumnya dihindari (termasuk bila baru memakai MAOI dalam 14 hari terakhir).
- Obat penghambat enzim CYP3A4 (misalnya ketokonazol, ritonavir, beberapa antibiotik seperti eritromisin/klaritromisin): dapat meningkatkan efek steroid (dexamethasone) sehingga risiko efek samping naik.
- Obat pemicu enzim (inducer) (misalnya rifampisin, karbamazepin, fenitoin): dapat menurunkan efek dexamethasone sehingga respons terapi bisa berkurang.
- Obat pengencer darah (misalnya warfarin): kortikosteroid dapat memengaruhi kontrol pembekuan; dokter mungkin memerlukan pemantauan lebih ketat.
- Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) (misalnya ibuprofen, diklofenak): dapat meningkatkan risiko iritasi lambung/ulkus, terutama bila dikombinasikan dengan steroid.
- Obat diabetes (insulin atau obat minum): dexamethasone bisa menaikkan gula darah sehingga dosis obat diabetes mungkin perlu penyesuaian oleh dokter.
- Diuretik (obat “kencing”) tertentu (misalnya furosemid) atau obat lain yang menurunkan kalium: bersama steroid dapat meningkatkan risiko kalium rendah (hipokalemia) pada sebagian orang.
- Vaksin tertentu: pemakaian kortikosteroid dapat memengaruhi respons imun. Jika Anda akan vaksinasi atau baru vaksin, tanyakan ke dokter apakah perlu penyesuaian jadwal.
Sampaikan semua obat, suplemen, dan produk herbal yang digunakan kepada dokter atau apoteker.
Efek samping
-
Efek samping yang relatif sering (ringan–sedang):
- Kantuk, pusing, lemas
- Mulut kering, penglihatan agak kabur, sulit konsentrasi
- Mual, tidak enak di lambung, mulas
- Nafsu makan meningkat
- Sulit tidur atau perubahan mood (lebih gelisah/lebih mudah marah) pada sebagian orang
- Pada penderita diabetes: gula darah bisa meningkat
-
Tanda bahaya: kapan harus segera ke dokter atau unit gawat darurat.
- Reaksi alergi berat: sesak napas, bengkak pada wajah/bibir/kelopak mata, biduran menyeluruh
- Tanda infeksi serius: demam tinggi, menggigil, nyeri tenggorokan berat, luka yang sulit sembuh
- Nyeri perut hebat, muntah darah, atau BAB hitam
- Perubahan penglihatan mendadak, nyeri mata hebat
- Perubahan perilaku/mood yang berat (kebingungan berat, gelisah ekstrem)
- Bengkak berlebihan, berat badan naik cepat, sesak (retensi cairan)
Efek samping tidak selalu terjadi pada semua orang. Jika efek samping mengganggu atau memburuk, hubungi dokter atau apoteker.
Kehamilan dan menyusui
- Kehamilan: penggunaan kombinasi antihistamin + kortikosteroid pada kehamilan perlu pertimbangan dokter. Pada kondisi tertentu, steroid dapat digunakan bila manfaatnya jelas, tetapi pemakaian tetap harus berdasarkan resep dan evaluasi risiko–manfaat.
- Menyusui: dexamethasone dan antihistamin seperti (dex)chlorpheniramine dapat masuk ke Air Susu Ibu (ASI). Antihistamin generasi pertama dapat menyebabkan bayi lebih mengantuk dan pada sebagian ibu dapat menurunkan produksi ASI, terutama bila dipakai lebih lama atau dosis besar. Konsultasikan dengan dokter—terutama bila bayi prematur, usia sangat muda, atau bila Anda perlu penggunaan lebih dari beberapa hari.
Penyimpanan
- Simpan pada suhu ruang, di tempat kering, terlindung dari panas dan cahaya langsung.
- Hindari menyimpan di kamar mandi atau tempat lembap.
- Simpan dalam kemasan aslinya (misalnya blister) sampai waktu digunakan.
- Jauh dari jangkauan anak-anak.
Referensi dan terakhir diperbarui
- Informasi produk dari produsen (halaman produk Soldextam Kaplet: komposisi, indikasi, dan dosis)
- MedlinePlus: Dexamethasone (informasi obat)
- MedlinePlus: Chlorpheniramine (informasi obat)
- NCBI Bookshelf – LactMed: Dexamethasone (ringkasan menyusui)
- NCBI Bookshelf – LactMed: Chlorpheniramine (ringkasan menyusui)
- National Health Service (NHS) Inggris: informasi obat dexamethasone dan chlorphenamine
Terakhir diperbarui: 31 Januari 2026